Minggu, 08 September 2013

Kantin MAF PGSD UNJ hadir lagi?

Assalamuallaikum. Wr. Wb. .

Apa kabar untuk para sahabat muslim PGSD UNJ, semoga kita selalu dalam lindungan Allah dan rahmat-Nya sehingga kita masih diberikan kesehatan. Hmmm udah lama ya ane ga share lagi, pada kesempatan kali ini agak sedikit berbeda karena mulai minggu ini KANTIN MAF PGSD hadir lagi dengan tema yang menarik untuk kita bahas..


Materi yang akan kita kaji sedikit berbeda dengan sebelumnya. .pada kajian yang akan kita adakan menyangkut tema tentang pergaulan. Apa sih pergaulan itu? Bagaimana pergaulan yang baik menurut islam itu?

Hmmm penasaran kan?
Yuk kita datang dan ramaikan di acara KANTIN MAF PGSD UNJ. .ditunggu ya sahabat muslim PGSD UNJ ^_^

Wassalamuallaikum Wr. Wb

Rabu, 03 Juli 2013

Menggapai Sholat Khusyuk

Salah satu bahasan penting dalam fiqh sholat adalah menjaga kekhusyukan di dalamnya. Bahkan disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah al-Maqdasy dalam kitabnya Mukhtasor Minhajul Qashidin, bahwa kekhusyukan adalah ‘puncak kebaikan’ dari adab-adab sholat yang kita kerjakan. Barangkali ini adalah sebuah jawaban, mengapa banyak orang yang shalat belum berhasil menjaga dirinya dari dosa dan kemaksiatan, sementara Al-Quran begitu jelas menggambarkan fungsi sholat :
إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ (سورة العنكبوت: 45)
Artinya : “ Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar “ (QS Al-Ankabut : 45)

Karenanya menjadi sebuah kebutuhan bagi setiap muslim, untuk mengevaluasi kembali shalat yang dijalani selama ini. Apakah sudah mendapati kekhusyukan dalam sholatnya, atau masih sering menjadikan sholat sebagai rutinitas biasa yang nyaris tidak berkesan apapun terhadap dirinya ?. Setiap muslim tentu harus berusaha untuk meningkatkan kualitas sholatnya dari hari ke hari. Bukan hanya mengerjakan syarat dan rukunnya saja, tetapi berusaha mengejar kekhusyukan di dalam sholat, agar lebih optimal pengaruh dan pahala yang ia dapatkan. Karena itu, cukup penting bagi kita untuk mendalami bahasan ulama seputar hal-hal yang mengarahkan kita pada kekhusyukan dalam sholat.

Urgensi Khusyuk dalam Sholat

Jika ditanyakan kepada kita, mengapa harus khusyuk dalam sholat ? Bukankah cukup bagi kita mengerjakannya dengan memenuhi syarat dan rukunnya saja, lalu kita terlepas dari kewajiban dan terbebas dari dosa?. Maka untuk menjawabnya bisa kita renungi beberapa dalil yang menunjukkan urgensi atau pentingnya kekhusyukan dalam sholat, diantaranya :
1.   Sholat Khusyuk adalah indikator keberuntungan seorang mukmin
Kekhusyukan dalam sholat adalah salah satu syarat keberuntungan seorang yang beriman. Allah SWT berfirman :
قدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)
Artinya : “sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) yang khusyuk dalam sholat-sholat mereka “ (QS Al-Mukminun 1-2)

2.Termasuk sifat Munafik yaitu lalai dan tidak khusyuk dalam sholatnya
Sebaliknya, bagi mereka yang lalai (sahun) dalam sholatnya, baik lalai dari sisi waktu maupun kekhusyukannya, diancam dengan kecelakaan di akhirat nanti. Allah SWT berfirman :
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)
Artinya : “ kecelakaan bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) yang lalai dari sholatnya “ (QS Al-Maun 4-5)
Ayat diatas turun berkaitan dengan orang-orang munafik di Madinah yang menunda-nunda waktu sholat ashar hingga menjelang terbenamnya matahari.

3.   Sholat Khusyuk akan menggugurkan dosa-dosa kita
Rasulullah SAW bersabda : “ Barang siapa yang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian sholat dua rekaat dan tidak lalai di dalamnya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu “ (HR Abu Dawud)
4.   Khusyuk menjaga keutuhan pahala Sholat kita
Meskipun kita sholat dengan berjamaah di masjid, ternyata tidak semuanya mendapatkan pahala yang sama. Semua bergantung dengan kualitas kekhusyukan seseorang. Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya seseorang yang keluar dari tempatnya sholat, dan tidaklah dicatat baginya pahala (sholatnya) kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, sepertujuhnya ….. seperempat, dan setengahnya” (HR Abu Daud)



Kiat Khusyuk dalam Sholat
Disebutkan dalam Tafsir Al-Wasith yang ditulis oleh Syeikh Al-Azhar, Muhammad Ali Tonthowi , makna khusyuk adalah : “ ketakutan dalam hati kepada Allah SWT, yang terlihat pada anggota badan, menjadikannya tenang dan merasakan bahwa berdiri menghadap Allah SWT “. Tentu saja ini adalah pekerjaan yang berat dan harus dilatih terus menerus. Beberapa langkah  untuk lebih khusyuk dalam sholat, secara umum telah dibahasa dalam beberapa kitab fiqh bab sholat, diantaranya sebagai berikut :
1.    Menyadari fungsi dan pentingnya sholat : sehingga ia tidak lagi merasa sholat sebagai sebuah kewajiban, tetapi sebagai sebuah kebutuhan yang akan berakibat baik bagi dirinya sendiri, di dunia maupun akhirat. 
2.    Istihdhor al-Qalb ( Konsentrasi ) : yakni mengosongkan hati dari hal hal yang mengganggu dan mencampuri konsentrasi ketika sholat. Karenanya disyariatkan niat di awal sholat sebagai pintu awal menata hati dan menghadirkannya. Rasulullah SAW juga mengingatkan godaan syetan ketika manusia tengah sholat . Dari Utsman bin Abi Ash, ia mendatangi Rasulullah SAW dan mengatakan : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syaitan telah menghalangi shalatku dan mengganggu bacaanku”.Maka Rasulullah SAW berkata : “ itu adalah syaitan yang bernama Khonzab, jika engkau merasakan maka bertaawudzlah (minta perlindungan kepada Allah), dan meludahlah ka arah kiri tiga kali “ (HR Bukhori)

3.    Tafahum li ma’nal Kalam ( Mengetahui Arti lafal) : Dengan memahami makna bacaan yang kita lafalkan, maka akan membantu kekhusyukan dalam sholat, karena kita menghayati sepenuhnya doa-doa yang ada di dalamnya. 
4.    Ta’dzhiim lillah ( Penghormatan & Pengagungan ) : Yaitu merasakan keagungan Allah dan sebaliknya kekerdilan kita sebagai hambanya. Hal ini akan memunculkan ketakutan saat sedang menjalani Sholat. Tidak ada kesombongan sedikitpun saat kita sholat.
5.    Roja wal Khouf ( Harap-harap Cemas) : Yaitu berhati-hati dalam sholat, berusaha membaguskannya seoptimal mungkin karena kita berharap bahwa sholat kita ini bisa diterima oleh Allah SWT. Sementara Allah SWT berfirman : 
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Artinya : “ Sesungguhnya yang dikabulkan oleh Allah SWT adalah amal orang-orang bertakwa “ (QS Al Maidah 27)
6.    Dzkirul Maut ( Mengingat Mati ) : Kita merasa bahwa sholat kita ini adalah yang terakhir yang akan kita kerjakan, dimana setelahnya malaikat maut datang menjemput ajal kita. Perasaan ini menumbuhkan suasana kebatinan yang luar biasa, membantu sholat kita jauh lebih khusyuk dari sebelumnya. Karenanya, Rasulullah SAW bersabda : 
اذكر الموت في صلاتك ، فإن الرجل إذا ذكر الموت في صلاته لحري أن يحسن صلاته، و صل صلاة رجل لا يظن أن يصلي صلاة غيرها "

Ingatlah mati dalam sholatmu , karena sesungguhnya jika orang mengingat mati dalam sholatnya tentu ia akan memperbagus sholatnya. Shalatlah seperti orang tidak yakin ia akan dapat melakukan sholat selainnya. (HR Dailami, dishahihkan oleh Albani)

Selain langkah-langkah di atas, syariat kita juga  menganjurkan sunnah-sunnah tertentu yang semuanya mengarah menuju optimalisasi kualitas sholat. Ada hal-hal yang dianjurkan : seperti bersiwak, memakai pakaian yang baik, berdoa ketika melangkah ke masjid. Ada pula hal-hal yang dilarang dan dimakruhkan, seperti : larangan makan makanan berbau menyengat, larangan sholat dalam kondisi menahan hajat, dan lain sebagainya. Jika semua ini dijalankan dengan baik, insya Allah akan membantu kita untuk menggapi sholat yang lebih khusyuk. Semoga Allah SWT memudahkan. Wallahu a’lam bishhowab

Senin, 24 Juni 2013

Adab dan permasalahan seputar Berdoa

Berdoa adalah termasuk dalam rangkaian ibadah lisan, sebagaimana dzikr, tilawah bahkan dakwah sekalipun. Ibadah yang kita lakukan setiap hari memang beragam. Sebagian besar masih fokus pada ibadah jasadiyah, sebagaimana shalat dan shaum. Ada juga yang disebut ibadah maliyah, atau harta, seperti zakat, shodaqoh, haji dan begitu pula pendanaan jihad fii sabilillah. Doa termasuk dalam kategori ibadah lisan, karenanya sangat penting membahas tentang aturan dan adab-adab yang harus diperhatikan saat kita berdoa. Apalagi mengingat intensitas kita berdoa setiap hari yang cukup sering, maka tentu saja menjadi sangat penting bagi kita untuk menguatkan pemahaman kita seputar doa, agar semakin yakin dan khusyuk dalam berdoa. 



Kemudian Rasulullah SAW menceritakan mengenai seorang lelaki sudah lama berjalan kerana jauhnya perjalanan yang ditempuhnya sehingga rambutnya kusut-masai dan berdebu. Orang itu menadah tangannya ke langit dan berdoa, “Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!”, padahal makanannya daripada barang haram, minumannya daripada yang haram, pakaiannya daripada yang haram dan dia diasuh dengan makanan haram. Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya? (Hadis riwayat Muslim) 

Adab berdoa 

Setiap doa yang hendak dibaca hendaklah mempunyai sifat dan tujuan yang baik. Doa yang diucapkan sebaik-baik hendaklah dalam keadaan dan cara seperti berikut: 
* Mengetahui tujuan berdoa atau apa yang hendak dipohon dari Allah SWT. 
* Doa dibaca dengan betul dan tepat sebutan mahrajnya. 
* Doa dibaca dengan suara yang jelas dan sederhana (tidak terlalu laju). 
* Doa dibaca dengan suara yang sesuai (tidak terlalu kuat dan sebaliknya). 
* Doa dibaca dengan penuh rasa khusyuk dan tawaduk kepada Allah SWT. 

Antara adab-adabnya adalah seperti berikut : 

1. Pastikan makanan, minuman dan pakaian, adalah dari sumber yang halal. Memakan makanan halal dan baik adalah satu bentuk ketaatan kepada Allah dalam memenuhi segala perintah-Nya. Maka apabila seseorang itu selalu taat kepada Allah dalam segala perkara dan sentiasa berada dalam kebenaran, insya-Allah segala yang dimohon akan dikabulkan Allah. 

2. Ikhlas dengan Allah semasa berdoa. Ikhlas ini maksudnya, buat apa yang Allah suruh dan tinggalkan larangan-Nya. Ikhlas bukan sahaja untuk berdoa sebenarnya dalam segala ibadah dan perlakuan kita. 

3. Seeloknya didahulukan dengan wudhuk. Sekiranya kita tidak boleh berwudhuk masih juga boleh berdoa. 

4. Digalakkan solat sunat 2 rakaat dahulu sebelum berdoa. 

5. Mengadap kiblat semasa berdoa. 

6. Membuka telapak tangan dan angkat paras bahu semasa berdoa. 

7. Berdoa dengan suara yang perlahan dan lembut. Kita bukan menyeru pada yang tuli atau yang jauh, Allah mendengar apa yang kita pinta. Berlemah-lembutlah dengan Allah semasa berdoa tu. Suara tidak terlalu keras dan tak terlalu perlahan. 

8. Jangan terburu-buru dengan Allah. Kita meminta dengan berdoa, kita mesti bersangka baik dengan Allah bahawa doa kita sentiasa didengari dan dimakbulkan. Ada 3 cara Allah makbulkan doa kita: 
a) Dengan serta merta 
b) Ditangguhkan untuk dimakbulkan di hari akhirat 
c) Dijauhi kita dari mara bahaya dan bala bencana. 

9. Dahulukan meminta doa untuk diri kita sebelum kita mendoakan orang lain. 

10. Meminta doa dengan bersungguh-sungguh. Jangan berdoa seperti ini, “Ya Allah, berikanlah aku petunjuk jika Engkau suka”, sebab Allah boleh buat apa yang Dia mahu, kalau kita berkehendakkan sesuatu mesti bersungguh-sungguh meminta dengan Allah. 

11. Jangan sombong dengan Allah semasa berdoa. Kita banyak berdosa, jadi digalakkan kita menyebut kesalahan kita semasa berdoa. Seperti Nabi Adam semasa berdoa, baginda berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diri aku.....” 

12. Ulangi hajat kita sebaiknya sebanyak 3 kali ketika berdoa. 

13. Jangan berdoa tentang perkara yang haram (seperti nak minum arak, nak menang judi) atau untuk memutuskan silaturrahim. Selagi kita tidak berdoa ke arah ini, insya Allah doa kita akan dimakbulkan dengan salah satu cara macam dalam no 8. 

14. Berdoalah untuk hajat yang dari sekecil-kecil sehingga sebesar-besarnya. Setiap apa yang kita pinta pastikan kita pinta dari Allah. (contoh: nak cepat dapat jodoh atau nak naik pangkat dan lain-lain) 

15. Jangan berdoa kepada perkara yang mustahil (contoh: ketul emas di bawah bantal apabila bangun tidur). Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas. 

16. Seorang imam, tidak boleh hanya meminta doa untuk dirinya sahaja. Mesti menggunakan perkataan yang merangkupi semua jemaahnya. 

17. Berdoa dengan bertawassul (perantaraan) dengan orang alim. Dahulu, sahabat nabi bertawasul dengan Saidina Abbas (bapa saudara Rasulullah). Selepas Abbas meninggal dunia, sahabat-sahabat bertawasul dengan Rasulallah sahaja. 

18. Bertawassul dengan perbuatan baik kita apabila berdoa. Misalnya jika kita dalam kesusahan yang teramat kita boleh berdoa sambil bertawassul dengan perbuatan baik yang pernah kita buat dahulu. Seperti, mendahului memberi makan kepada ibu bapa sebelum mamberi anak-anak dan keluarga makan. 

Tempat berdoa 

Tempat yang diharuskan berdoa antaranya ialah di tempat-tempat perhimpunan yang bertujuan untuk kebaikan seperti masjid, dewan, madrasah, rumah kediaman dan tempat terbuka (seperti padang). 

Manakala yang tidak diharuskan berdoa ialah di tempat yang terdapat patung manusia atau haiwan, gambar-gambar atau lukisan yang tidak sopan yang terkeluar dari akhlak Islam. Begitu juga di tempat-tempat yang mengandungi acara atau aktiviti yang berunsur maksiat, ditegah atau bertentangan dengan Islam seperti majlis tari menari atau yang seumpama dengannya. 

Saat-saat doa paling mustajab 

Dari Ibnu Abbas r.a. katanya, “Rasulullah SAW membuka tirai (kamarnya ketika baginda sakit akan meninggal), padahal ketika itu jamaah sedang solat berjamaah diimami Abu Bakar. Lalu baginda bersabda, “Sesungguhnya tidak ada lagi wahyu kenabian yang ketinggalan yang harus aku sampaikan, kecuali mimpi baik seorang muslim. Ketahuilah! Aku dilarang membaca al-Quran dalam rukuk dan sujud. Agungkanlah Allah Azza wa Jalla di dalam rukuk dan perbanyakkanlah doa di dalam sujud, pasti doamu diperkenankan Allah SWT.” (Hadis Riwayat Muslim) 

Postur sujud ialah menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, hujung kaki, dan dahi pada lantai. Ketika Allah meminta para malaikat bersujud kepada nabi Adam a.s. bererti inilah tingkat tertinggi dari sebuah penghormatan. 

Sujud hanyalah untuk Allah SWT. Allah meminta malaikat sujud hormat, bukan sujud penyembahan dan mengajar kita bahawa tingkat paling tinggi dari rasa hormat adalah “Sujudlah pada-Ku”. Tidak ada penyembahan yang lebih baik daripada sujud. 

Itulah sebabnya mengapa umat Islam berbeza daripada umat agama lain. Mereka meletakkan dahinya atau kepalanya yang paling mulia ke tanah. Hal ini sekaligus membuang sifat angkuh seseorang dan menggantinya dengan berserah kepada Tuhan-Nya yang paling Agung. Inilah nilai kehambaan yang sebenar yang mengundang rahmat dan keberkatan daripada Allah. 

Kesimpulannya 

Kita hendaklah berdoa dengan penuh keyakinan, harapan dan rasa takut. Merendahkan diri dengan suara lirih, tenang, tidak tergesa-gesa, penuh khusyuk dan tahu akan hakikat apa yang diminta. Ini berdasarkan firman Allah SWT yang bermaksud, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut.”(Surah al-A'raf , ayat 55) 

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud, “Tiada seorangpun yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, kecuali dikabulkan-Nya dan dia memperoleh satu daripada tiga keadaan, iaitu dipercepatkan penerimaan doanya di dunia, disimpan (ditunda) untuknya sampai di akhirat atau diganti dengan mencegahnya daripada musibah (bencana) serupa.” (Hadis riwayat at-Tabrani) 

Semoga segala doa kita dimakbulkan Allah SWT. Amiin.

Dalam dakwah tiada istilah COPYRIGHT.... Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah SAW telah pun bersabda yang bermaksud, "Balighu anni walau ayah. (sampaikan daripada ku walau satu ayat)"– Hadis Riwayat Bukhari

Hadis Rasulullah SAW:

Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah SAW., sabdanya: "Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian dicukupkannya seratus dengan membaca: "La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir. Maka diampuni Allah segala kesalahannya, walaupun sebanyak buih di lautan." (Hadis riwayat Muslim)

Minggu, 23 Juni 2013

Sya'ban Gerbang Menuju Ramadhan

Waktu berjalan dengan begitu cepat, saat ini kita akan menapaki hari-hari awal bulan sya’ban. Ramadhan telah tiba di hadapan, padahal seolah belum lama kita meninggalkan bulan mulia itu dengan suka cita hari raya. Maka benarlah apa yang diisyaratkan Rasulullah SAW dalam haditsnya : “ Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai daripadanya : kesehatan dan kesempatan (waktu luang) “ (HR Bukhori) . Karena itulah, mari kita segera berbenah diri sejak dini, menata hati dan langkah menyambut ramadhan, di mulai dari bulan Sya’ban ini.

Rasulullah SAW dan para sahabat sejak awal telah menjadikan bulan sya’ban sebagai bulan persiapan menyambut Ramadhan dengan menjalankan puasa sunah 9 hari di bulan syaban pada awal, pertengahan dan akhir . Secara khusus disebutkan dalam hadits tentang keutamaan bulan sya’ban : Dari Usamah bin Zaid, ia bertanya pada Rasulullah SAW :


 “ Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada sebuah bulan yang lebih banyak dari puasamu di bulan sya’ban ? “. Maka Rasulullah SAW menjawab : “ (Sya’ban) itu adalah bulan antara Rojab dan Ramadhan yang kebanyakan manusia melalaikannya. Sya’ban adalah bulan dimana amalan-amalan diangkat menuju sisi Tuhan Semesta Alam, karenanya aku suka ketika amal-amalku diangkat, sementara aku dalam keadaaan berpuasa “ (HR Nasa’i)
Ibaratnya kedatangan tamu mulia, maka tuan rumah yang baik tentu akan mempersiapkan sambutan yang terbaik. Kita semua kaum muslimin adalah tuan rumah yang akan mempersiapkan kedatangan Ramadhan, mulai dari bulan Sya’ban ini. Adapun serangkaian persiapan di bulan Sya’ban yang bisa kita lakukan antara lain :


Pertama : Persiapan Keimanan dan Kejiwaan dengan Berdoa & Memperbanyak Ibadah
Perintah puasa sejatinya ditujukan kepada orang-orang beriman. Di dalam surat al-Baqoroh 183 begitu jelas keimanan kita disentuh dengan panggilan kesayangan: “ wahai orang-orang yang beriman” . Karenanya langkah awal persiapan di bulan Sya’ban ini adalah mengkondisikan keimanan kita, agar benar-benar layak dan siap untuk mengisi bulan mulia tersebut. Persiapan keimanan dan pengkondisian jiwa juga dilakukan oleh Rasulullah SAW, bahkan sejak awal bulan Rajab. Dalam riwayat dari Anas bin Malik ra disebutkan : Bahwasanya Rasulullah SAW ketika memasuki bulan Rajab berdoa : “ Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah (usia) kami pada bulan Ramadhan “ (HR Ahmad). Dengan berdoa dan memperbanyak ibadah, maka kondisi keimanan kita akan terjaga hingga Ramadhan menjelang. Begitu pula secara konsentrasi, pikiran dan jiwa kita akan fokus dalam menyambut tamu mulia itu.

Kedua : Memperbanyak Puasa dan Membayar Hutang Puasa
Selain persiapan keimanan, kita juga bisa melakukan persiapan Ramadhan secara lebih fokus yaitu dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW telah memberikan contoh begitu jelas pada kita –sebagaimana disebutkan dalam hadits terdahulu – betapa beliau lebih mengintensifkan puasa sunnah di bulan Sya’ban. Fadilah puasa sunah di bulan syaban sama dengan 70tahun kita beribadah penuh. Bagi kita ini persiapan semacam ini tentu menjadi sangat penting, khususnya banyak dari kita yang melewati satu tahun dengan penuh kesibukan hingga jarang melakukan puasa sunnah. Begitu pula secara khusus bagi kaum wanita yang masih mempunyai tanggungan hutang puasa ramadhan di tahun lalu, maka bulan Sya’ban ini waktu yang tepat untuk segera melunasinya. Diriwayatkan pula dalam Shahih Bukhori, bagaimana Aisyah binti Abu Bakar ra, istri Rasulullah SAW pun baru bisa mengganti hutang puasanya di bulan Sya’ban, karena kesibukannya dalam membantu Rasulullah SAW .

Ketiga : Persiapan Ilmu
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang di dalamnya kita dianjurkan memperbanyak kebaikan. Banyak juga amalan-amalan lain di luar puasa yang semestinya kita lakukan di bulan Ramadhan, seperti : sedekah, memberi buka, tilawah dan tentu saja shalat tarawih. Anggapan Ramadhan sekedar bulan puasa hanya akan mengecilkan semangat kita dalam memperbanyak kebaikan di bulan mulia tersebut. Karenanya kita membutuhkan persiapan keilmuan sejak dini tentang bulan Ramadhan, agar saat bulan mulia itu menjelang, kita benar-benar tahu dan yakin tentang apa yang harus kita lakukan dalam mengisinya. Banyak kita saksikan di televisi dan media, saat Ramadhan telah beranjak setengah perjalanan masih saja banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar puasa, khususnya apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Ini menunjukkan kekurangsiapan kita dalam menjalani ibadah puasa.
Bulan Sya’ban ini adalah waktu yang tepat kita mempersiapkan keilmuan kita untuk mengoptimalkan pahala Ramadhan. Agar kita bisa mengisinya dengan optimal, dan berusaha menjalankan puasa dengan sempurna. Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang puasa yang sia-sia. Dari riwayat Abu Hurairah ra beliau bersabda : “ Betapa banyak orang berpuasa tapi tidak ada baginya pahala puasa kecuali lapar saja, dan betapa banyak orang sholat malam (tarawih), tapi tidak ada baginya pahala kecuali (kelelahan) begadang saja” (HR An-Nasa’i).
Akhirnya, marilah kita mengajak keluarga kita, saudara dan juga sahabat untuk bersama-sama menjadikan bulan Sya’ban ini sebagai bulan persiapan. Dari mulai persiapan keimanan hingga keilmuan, kita wujudkan satu demi satu pada hari-hari kita, pada rumah tangga dan lingkungan kita. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keberkahan. Wallahu a’lam.

 Waktu berjalan dengan begitu cepat, saat ini kita akan menapaki hari-hari awal bulan sya’ban. Ramadhan telah tiba di hadapan, padahal seolah belum lama kita meninggalkan bulan mulia itu dengan suka cita hari raya. Maka benarlah apa yang diisyaratkan Rasulullah SAW dalam haditsnya : “ Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai daripadanya : kesehatan dan kesempatan (waktu luang) “ (HR Bukhori) . Karena itulah, mari kita segera berbenah diri sejak dini, menata hati dan langkah menyambut ramadhan, di mulai dari bulan Sya’ban ini.

Rasulullah SAW dan para sahabat sejak awal telah menjadikan bulan sya’ban sebagai bulan persiapan menyambut Ramadhan dengan menjalankan puasa sunah 9 hari di bulan syaban pada awal, pertengahan dan akhir . Secara khusus disebutkan dalam hadits tentang keutamaan bulan sya’ban : Dari Usamah bin Zaid, ia bertanya pada Rasulullah SAW :

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

 “ Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada sebuah bulan yang lebih banyak dari puasamu di bulan sya’ban ? “. Maka Rasulullah SAW menjawab : “ (Sya’ban) itu adalah bulan antara Rojab dan Ramadhan yang kebanyakan manusia melalaikannya. Sya’ban adalah bulan dimana amalan-amalan diangkat menuju sisi Tuhan Semesta Alam, karenanya aku suka ketika amal-amalku diangkat, sementara aku dalam keadaaan berpuasa “ (HR Nasa’i)
Ibaratnya kedatangan tamu mulia, maka tuan rumah yang baik tentu akan mempersiapkan sambutan yang terbaik. Kita semua kaum muslimin adalah tuan rumah yang akan mempersiapkan kedatangan Ramadhan, mulai dari bulan Sya’ban ini. Adapun serangkaian persiapan di bulan Sya’ban yang bisa kita lakukan antara lain :


Pertama : Persiapan Keimanan dan Kejiwaan dengan Berdoa & Memperbanyak Ibadah
Perintah puasa sejatinya ditujukan kepada orang-orang beriman. Di dalam surat al-Baqoroh 183 begitu jelas keimanan kita disentuh dengan panggilan kesayangan: “ wahai orang-orang yang beriman” . Karenanya langkah awal persiapan di bulan Sya’ban ini adalah mengkondisikan keimanan kita, agar benar-benar layak dan siap untuk mengisi bulan mulia tersebut. Persiapan keimanan dan pengkondisian jiwa juga dilakukan oleh Rasulullah SAW, bahkan sejak awal bulan Rajab. Dalam riwayat dari Anas bin Malik ra disebutkan : Bahwasanya Rasulullah SAW ketika memasuki bulan Rajab berdoa : “ Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah (usia) kami pada bulan Ramadhan “ (HR Ahmad). Dengan berdoa dan memperbanyak ibadah, maka kondisi keimanan kita akan terjaga hingga Ramadhan menjelang. Begitu pula secara konsentrasi, pikiran dan jiwa kita akan fokus dalam menyambut tamu mulia itu.

Kedua : Memperbanyak Puasa dan Membayar Hutang Puasa
Selain persiapan keimanan, kita juga bisa melakukan persiapan Ramadhan secara lebih fokus yaitu dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW telah memberikan contoh begitu jelas pada kita –sebagaimana disebutkan dalam hadits terdahulu – betapa beliau lebih mengintensifkan puasa sunnah di bulan Sya’ban. Fadilah puasa sunah di bulan syaban sama dengan 70tahun kita beribadah penuh. Bagi kita ini persiapan semacam ini tentu menjadi sangat penting, khususnya banyak dari kita yang melewati satu tahun dengan penuh kesibukan hingga jarang melakukan puasa sunnah. Begitu pula secara khusus bagi kaum wanita yang masih mempunyai tanggungan hutang puasa ramadhan di tahun lalu, maka bulan Sya’ban ini waktu yang tepat untuk segera melunasinya. Diriwayatkan pula dalam Shahih Bukhori, bagaimana Aisyah binti Abu Bakar ra, istri Rasulullah SAW pun baru bisa mengganti hutang puasanya di bulan Sya’ban, karena kesibukannya dalam membantu Rasulullah SAW .

Ketiga : Persiapan Ilmu
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang di dalamnya kita dianjurkan memperbanyak kebaikan. Banyak juga amalan-amalan lain di luar puasa yang semestinya kita lakukan di bulan Ramadhan, seperti : sedekah, memberi buka, tilawah dan tentu saja shalat tarawih. Anggapan Ramadhan sekedar bulan puasa hanya akan mengecilkan semangat kita dalam memperbanyak kebaikan di bulan mulia tersebut. Karenanya kita membutuhkan persiapan keilmuan sejak dini tentang bulan Ramadhan, agar saat bulan mulia itu menjelang, kita benar-benar tahu dan yakin tentang apa yang harus kita lakukan dalam mengisinya. Banyak kita saksikan di televisi dan media, saat Ramadhan telah beranjak setengah perjalanan masih saja banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar puasa, khususnya apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Ini menunjukkan kekurangsiapan kita dalam menjalani ibadah puasa.
Bulan Sya’ban ini adalah waktu yang tepat kita mempersiapkan keilmuan kita untuk mengoptimalkan pahala Ramadhan. Agar kita bisa mengisinya dengan optimal, dan berusaha menjalankan puasa dengan sempurna. Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang puasa yang sia-sia. Dari riwayat Abu Hurairah ra beliau bersabda : “ Betapa banyak orang berpuasa tapi tidak ada baginya pahala puasa kecuali lapar saja, dan betapa banyak orang sholat malam (tarawih), tapi tidak ada baginya pahala kecuali (kelelahan) begadang saja” (HR An-Nasa’i).
Akhirnya, marilah kita mengajak keluarga kita, saudara dan juga sahabat untuk bersama-sama menjadikan bulan Sya’ban ini sebagai bulan persiapan. Dari mulai persiapan keimanan hingga keilmuan, kita wujudkan satu demi satu pada hari-hari kita, pada rumah tangga dan lingkungan kita. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keberkahan. Wallahu a’lam.

Menurut Ajaran Wahabi - Kegiatan - Malam Nisfu Sya'ban itu Bid'ah, sesat. Benarkah Pemahaman Mereka????

Menurut Ajaran Wahabi - Kegiatan - Malam Nisfu Sya'ban itu Bid'ah, sesat.


Benarkah Pemahaman Mereka????

Banyak Web2, atau Blog orang2 Wahabi yg membahas , saling tanya jawab, dan mengatakan bahwa Malam Nisfu Sya'ban itu Bid'ah, mungkar, sesat, dan lain sebagainya.


Sya'ban diambil kosa kata bahasa Arab yang berasal dari kata syi'ab yang artinya jalan di atas gunung. Umat Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.

Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Islam .Dinamakan Sya’ban, karena orang-orang Arab pada bulan-bulan tersebut yatasya’abun/berpencar untuk mencari sumber mata air. Dikatakan juga karena mereka tasya’ub/berpisah-pisah di gua-gua. Dan dikatakan juga sebagai bulan Sya’ban karena bulan ini muncul/sya’aba di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan.

Peringatan Nisfu Sya’ban tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Al-Azhar sebagai yayasan pendidikan tertua di Mesir bahkan di seluruh dunia selalu memperingati malam yang sangat mulia ini.

Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.

Rasulullah SAW bersabda,

ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم — حديث صحيح رواه أبو داود النسائي

”Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan.

Karenanya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT, walaupun dalam kesehariannya umat Islam juga telah berusaha untuk banyak berdzikir dan meminta pertolongan dari Allah SWT.

Dari sinilah umat Islam, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para anak yatim piatu, orang2 yg membutuhkan, kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim.

Kegiatan Nifsu Sya’ban menurut sebagian Ulama, yaitu antara lain:

1. Sholat fardlu Maghrib
2. Membaca Surah Yassin 3 kali
3. Membaca doa Nifsu Sya’ban
4. Menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan memperbanyak dzikir, shalawat, doa dan istighfar.

Adapun apa yang sering dilakukan oleh sebagian umat Islam, yaitu Salat Malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, Hadistnya oleh sebagian ahli hadist dianggap sahih, namun sebagian menganggap dhaif.
Namun demikian dalam urusan shalat sunnah, kata Nabi SAW, boleh kita tambahi jumlahnya dan boleh kita kurangi sesuai kemampuan kita.


Tentang keutamaan sya'ban :

Rasulullah saw bersabda,: 
“Allah mengawasi dan memandang hamba hamba Nya di malam nisfu sya’ban, lalu mengampuni dosa dosa mereka semuanya kecuali musyrik dan orang yg pemarah pada sesama muslimin” (Shahih Ibn Hibban hadits no.5755)

”Bulan Sya'ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa'i)

Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya'ban:
sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya'ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban nanti, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.

Diriwayatkan dari Siti A’isyah ra berkata, :
“Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) .

Diriwayatkan dari Siti Aisyah ra bercerita:
bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA :
bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW :
bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).

Syaikh‘Abdul Qadir al-Jailaniy berkata:
“Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling mulia setelah Lailatul Qodr.” (Kalaam Habiib ‘Alwiy bin Syahaab)

Berkata Imam Syafii rahimahullah : 
“Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya’ban” (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319).

Dikutip dari buku al-Fawaaidul Mukhtaaroh Diceritakan bahwa Ibnu Abiy as-Shoif al-Yamaniy berkata:
“Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan sholawat kepada Nabi saw, karena ayat Innallaaha wa malaaikatahuu yushalluuna ‘alan Nabiy … diturunkan pada bulan itu. (Ma Dza Fiy Sya’ban?)

Dikutip dari buku al-Fawaaidul Mukhtaaroh Diceritakan bahwa Ibnu Abiy as-Shoif al-Yamaniy berkata, :
“Sesungguhnya bulan Sya’ban adalah bulan sholawat kepada Nabi saw, karena ayat Innallooha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alan Nabiy … diturunkan pada bulan itu. (Ma Dza Fiy Sya’ban?)


KESIMPULAN

Kita sebagai umat Islam sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, shalat sunnah, memperbanyak bacaan zikir, memperbanyak baca’an shalawat, membaca al-Qur’an, bersedekah, berdo’a dan mengerjakan amal-amal salih lainnya.

Karena dengan hal ini dapat juga menjadi latihan untuk umat Islam agar terbiasa setiap harinya melakukan hal2 yg disebutkan di atas. Agar keimanan dan ketaqwaan semakin meningkat.

Rasulullah saw bersabda: “sungguh sebesar besarnya dosa muslimin dg muslim lainnya adalah pertanyaan yg membuat hal yg halal dilakukan menjadi haram, karena sebab pertanyaannya” (Shahih Muslim)


Mudah2an bermanfaat....امين